Budayawan Menagih Gelar Pahlawan Pak Sakera Dan Gedung Kesenian, Febri Siap Kawal

Kegiatan Tabur Bunga Puspa Mahardika sebagai penghormatan bagi Pak Sakera bukan sekadar sarana mengenang jasa tokoh sejarah dan perjuangan kemerdekaan. Lebih dari itu, momen yang dihadiri para budayawan ini sekaligus menjadi wadah untuk kembali mengingatkan Pemerintah Kabupaten Pasuruan atas sejumlah tugas yang belum terselesaikan di bidang kebudayaan.

Peristiwa yang berlangsung di Makam Pak Sakera, kawasan Bekacak, Kelurahan Kolursari, Kecamatan Bangil, pada Minggu (16/8/2026) ini menjadi ruang penyampaian aspirasi agar pelestarian sejarah serta kekayaan budaya daerah mendapat perhatian yang lebih besar.

Ki Bagong Sabdo Sinukarto, selaku Ketua Forum Pamong Kebudayaan Jawa Timur, menyampaikan bahwa sejumlah hal yang telah lama diperjuangkan ternyata belum juga terwujud. Salah satu yang paling mendesak adalah pengusulan Pak Sakera agar diakui sebagai Pahlawan Nasional.

“Hingga hari ini, gelar Pahlawan Nasional belum disandang oleh Pak Sakera. Demikian pula senjata andalan beliau, yaitu Monteng, belum ditetapkan sebagai senjata khas Kabupaten Pasuruan,” tutur Ki Bagong.

Menurut penuturannya, upaya tersebut sebenarnya sudah pernah dijalankan. Para budayawan bahkan sempat berkoordinasi dengan para wakil rakyat di Jawa Timur dan menemui Penjabat Bupati Pasuruan saat itu, Andriyanto.

“Dulu kami pernah mengajukan dan memperjuangkannya bersama Anggota DPRD Jawa Timur, Rohani. Kami juga sempat berjumpa dengan Pj Bupati kala itu, Andriyanto. Namun sayangnya, langkah tersebut tidak berlanjut hingga tuntas,” ungkapnya kembali.

Selain persoalan Pak Sakera dan senjata Monteng, Ki Bagong juga menyoroti belum tersedianya gedung kesenian yang layak di Kabupaten Pasuruan. Kebutuhan akan sarana tersebut sejatinya sudah disuarakan sejak lama, namun hingga kini belum terealisasi.

“Permintaan kami akan adanya gedung kesenian ini sudah kami sampaikan sejak lama. Sampai saat ini Kabupaten Pasuruan belum memiliki gedung kesenian. Padahal luas wilayah Kota Pasuruan jauh lebih kecil, namun sudah memilikinya,” tandasnya.

Baca Juga:  Kirab Ancak Babat Alas Randupitu, Warga Guyub Menyatu

Meski merasa perhatian terhadap pelaku seni dan budaya belum cukup memadai, hal tersebut tidak menyurutkan tekad mereka untuk terus berkarya.

“Bagi kami para budayawan dan seniman, seolah-olah layaknya daun salam. Dibutuhkan saat memasak, namun saat hidangan siap, daunnya justru dibuang ke pinggir,” ujarnya dengan nada menyindir.

Di sisi lain, Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan Febri Irawan mengaku baru pertama kali mendengar secara langsung usulan pembangunan gedung kesenian dari para budayawan.

“Sejujurnya, saya baru mengetahui adanya keinginan pembangunan gedung kesenian dari pertemuan ini. Akan segera saya tanyakan kepada Komisi IV. Selain itu, di wilayah Kabupaten Pasuruan juga terdapat sejumlah bangunan yang tidak terpakai. Kemungkinan besar bangunan tersebut dapat kami manfaatkan menjadi gedung kesenian,” jelas Febri.

Mengenai pengusulan gelar Pahlawan Nasional untuk Pak Sakera serta penetapan Monteng sebagai senjata khas daerah, Febri menjelaskan bahwa proses tersebut memang harus melalui berbagai tahapan.

“Pengusulan gelar pahlawan nasional maupun penetapan senjata khas daerah tidaklah instan dan harus melewati prosedur bertahap. Meski demikian, saya berjanji akan mendampingi dan memperjuangkannya semampu saya,” tegasnya.

Anggota dewan kelahiran Sulawesi ini juga menyampaikan bahwa dalam waktu dekat akan dibahas rancangan peraturan daerah. Ia berharap momen tersebut dapat menjadi ruang musyawarah yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk para tokoh agama dan pelestari budaya.

“Segera setelah ini, kami akan memasuki tahap pembahasan rancangan peraturan daerah. Tokoh agama dan tokoh budaya akan kami undang untuk turut memberikan pandangan dan masukan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *