Pasuruan – Kinerja sektor perikanan budi daya di Kota Pasuruan selama semester pertama tahun 2026 belum berjalan sesuai harapan. Hingga akhir Juni, angka yang tercatat masih jauh dari sasaran yang ditetapkan.
Hasil panen para pembudidaya baru mencapai 565 ton. Angka tersebut setara dengan 20,8 persen dari keseluruhan target tahunan yang ditetapkan sebesar 2.715 ton.
Artinya, masih terdapat selisih sebesar 2.150 ton yang harus dipenuhi dalam sisa enam bulan ke depan agar capaian tahun ini dapat tercapai.
Muallif Arif, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Kota Pasuruan, menyadari bahwa naik turunnya hasil produksi sangat dipengaruhi oleh kondisi dan dinamika yang terjadi langsung di lokasi tambak.
Pada tahun sebelumnya, komoditas ikan bandeng menyumbang hasil terbesar, disusul budi daya rumput laut merah (gracilaria verrucosa) yang menjadi bahan baku utama pembuatan agar-agar.
“Sepanjang Januari hingga Juni, hasil panen yang berhasil dikumpulkan pembudidaya mencapai lebih dari 565 ton. Angka yang tergolong baik untuk awal tahun,” ujar Muallif — yang akrab disapa Ayik.
Meski sisa beban produksi yang harus dipenuhi masih terbilang besar, pihaknya tetap memancarkan optimisme.
Harapan itu didasari pola panen yang berlaku di wilayah Kota Pasuruan, di mana waktu pemanenan tidak berlangsung serentak bagi seluruh pembudidaya.
“Pola panen masing-masing pembudidaya juga beragam. Ada yang sudah memanen, namun ada pula yang masih dalam masa pemeliharaan. Tidak dilakukan secara bersamaan,” jelas Ayik.
Melihat catatan dua tahun terakhir, volume produksi perikanan budi daya di Kota Pasuruan secara konsisten menunjukkan peningkatan tajam menjelang akhir tahun.
Sebagai gambaran, pada tahun 2025, dari target sebesar 2.629 ton, para petambak justru berhasil melampaui sasaran dengan hasil akhir mencapai 2.662 ton.(Tim)







Leave a Reply