Pasuruan – Ketua LSM P3MB menyuarakan keprihatinan sekaligus kecurigaan terhadap pembangunan saluran irigasi di Dusun Tegalan, Desa Bakalan, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan. Pasalnya, bangunan yang baru saja rampung dibangun dalam hitungan bulan itu kini sudah runtuh dan mengalami kerusakan yang cukup parah.
Masroni selaku Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Persatuan Pemuda Peduli Masyarakat menyampaikan penyesalan mendalam atas kondisi bangunan irigasi tersebut. Ia menjelaskan bahwa proyek pembangunan itu dibiayai sepenuhnya dari anggaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan nilai mencapai ratusan juta rupiah.
“Anggaran yang digelontorkan untuk proyek irigasi ini saja sudah ratusan juta. Padahal baru digunakan beberapa bulan, tembok penahannya sudah ambruk begitu saja. Hal ini sungguh merupakan pemborosan yang nyata dan patut ditelusuri kejelasannya,” ujar Masroni saat meninjau langsung lokasi kejadian pada Senin (31/8/2026).
Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, dinding penahan saluran air sepanjang kurang lebih sepuluh meter telah runtuh. Terlihat pula bahwa struktur beton yang digunakan tidak dilengkapi penyangga penguat yang seharusnya ada, sehingga kekokohan bangunan sangat diragukan. Akibat kelalaian tersebut, bangunan segera rusak dan berakibat pada terbuangnya anggaran yang telah disiapkan.
“Kasus ini harus diselidiki secara menyeluruh. Uang yang digunakan adalah uang rakyat. Kami meminta instansi terkait beserta aparat penegak hukum untuk turun langsung ke lokasi guna memeriksa keadaan,” tegas Masroni.
Pria yang berdomisili di Kecamatan Purwosari itu pun menduga kuat adanya kejanggalan dalam pelaksanaan pekerjaan. Ia menyoroti kualitas bahan yang digunakan serta lemahnya pengawasan selama proses pembangunan. “Kami menduga ada hal yang tidak wajar, mulai dari spesifikasi bahan, rincian biaya, hingga pengawasannya. Sangat patut diduga proyek ini dikerjakan asal jadi demi mengejar selesai,” tandasnya.
Kekecewaan yang sama turut disampaikan Darso, salah seorang warga Desa Bakalan. Menurutnya, tanda-tanda kerusakan sebenarnya sudah muncul sejak beberapa bulan lalu. Hal yang lebih mencurigakan, papan petunjuk proyek maupun prasasti peresmian kini sudah tidak tampak di lokasi.
“Dulu saat pembangunan dimulai, kami warga merasa sangat gembira. Namun sayang, hasilnya justru seperti ini. Aliran air pun menjadi tidak lancar dan tidak stabil. Kabarnya anggaran yang disiapkan mencapai sekitar 190 juta rupiah,” ungkap Darso.
Darso pun meminta Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Kabupaten Pasuruan beserta Inspektorat segera melakukan pemeriksaan dan penelusuran anggaran. Tak hanya itu, ia juga mendesak pihak pelaksana pembangunan untuk bertanggung jawab memperbaiki kerusakan tersebut tanpa membebani anggaran negara kembali.
Hingga berita ini disusun, pihak yang ditugaskan sebagai pengawas proyek belum bersedia memberikan tanggapan saat dihubungi melalui telepon selulernya. Sementara itu, warga Desa Bakalan berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki saluran irigasi tersebut agar tidak mengganggu masa tanam yang akan datang. (Tim)







Leave a Reply